Cerita Dewasa

Sex High School part 4

Tiga minggu berlalu sejak malam yang kacau itu. Sampai sekarang aku masih sangat mengingat ekspresinya, kata-kata kasarnya, suara kerasnya. Semuanya hanya menempel di otakku. Air mataku perlahan menetes, aku sangat membencinya, tapi aku rindu padanya. Candaannya, wajah tampannya, tatapannya. Ego menahanku untuk menemuinya.
“Huh, jadi begitu bodohnya kau Eunri…” kini aku tertawa pada diriku sendiri. Apa sih yang kupikirkan, bisa-bisanya aku rindu padanya.
“Eun, kau memikirkan Kyuhyun lagi?” pelukan hangat menyelimutiku, Heechul.
“Heechul-a, aku harus apa?” air mataku mengalir deras. Heechul semakin erat memelukku, ia bahkan ikut menangis bersamaku.
“Eunri sayangku, semua ini ditanganmu. Aku tak bisa ikut campur.” aku bersyukur aku punya sahabat seperti Heechul. Dia tak pernah menekanku untuk berbicara dengan Kyuhyun atau untuk menjauhi Kyuhyun, dia selalu mendukung segala keputusanku.
“Mengapa ia tak pernah mencariku kalau dia memang sayang padaku? Huh, sepertinya selama ini aku saja yang terlalu percaya diri.”
“Pasti segalanya ada alasannya Eun, dia mungkin merasa sangat bersalah makanya ia tak berani menemuimu.”
“Heechul, aku hanya merasa, ini semua percuma.” aku membalas pelukan Heechul, melanjutkan tangisanku.

‘Pengunguman, seluruh anak books lovers diharap berkumpul di perpustakaan setelah makan malam. Siapapun yang tak datang, nilai sastranya akan dikurangi, terima kasih.’
“Astaga, apa pengunguman ini serius? Apa hubungannya ekstrakulikuler dengan nilai sastra? Ketua dan wakil ketuanya sedang putus asa, ya, karena tidak ada anggota yang datang ke perkumpulan?” komentar pria yang merupakan anggota books lovers terhadap pengunguman melalui speaker tadi. Yap, aku setuju, apa hubungannya books lovers dengan nilai sastra?
“Hah… aku tak mau datang tapi nilai sastraku sudah cukup rendah untuk dikurangi lagi.” keluhku. Sebenarnya aku ahli sastra tapi dalam keadaan stress seperti ini, aku kesulitan menerima pelajaran. “Ya, tampaknya aku tak punya pilihan.”

Ruang perpustakaan yang biasanya sepi kini dipenuhi anak-anak books lovers. Dan tak seperti biasa, yang memimpin hari ini bukanlah Mirae eonnie tapi Kyuhyun. Yap, sekarang aku sangat terdesak. Sial.
“Aku tak punya banyak hal untuk dikatakan. Silahkan pilih buku sesuka kalian, baca selama satu jam dan ringkas selama setengah jam. Setelah itu kumpulkan ringkasan kalian. Tiga orang dengan ringkasan terbaik akan kupanggil ke ruang ketua ekstrakulikuler dan akan aku tes apakah ini benar-benar kalian yang meringkas setelah itu akan kuberikan tambahan nilai pada nilai sastranya.” Kyuhyun terus menatap tajam kearahku selama membacakan pembukaan, hal itu cukup membuatku risih. “Baik, silahkan cari buku kalian.”
Aku berlari mencari buku Romeo and Juliet lagi, sudah ku katakan bukan tipe orang yang rajin membaca kan?
“Hei, ini aku lagi, ingat?” seorang gadis menyapaku dengan ramah. Yap, aku ingat itu Mirae eonnie.
“Ne. Eonnie mau mengajak duduk bersama lagi?”
“Ah, itu kalau kamu tak keberatan. Sekalian aku mau cerita lagi ya?” aku menelan ludah, apakah dia akan bercerita tentang hubungannya dengan Kyuhyun lagi?
“Jadi Eonnie mau cerita tentang apa?” tanyaku seraya duduk di salah satu bangku.
“Um… aku tak tau ada apa tapi sudah lima kali kami berhubungan badan lagi. Apakah menurutmu dia menganggapku istimewa sekarang?” panas, kepalaku benar-benar panas sekarang. Marah itulah yang kurasakan.
“Maaf Eonnie, saya kurang nyaman duduk bersama Eonnie karena banyak pria yang terus memandang kerarah sini. Saya permisi.” dengan cepat berdiri. Aku berjalan mencari bangku paling pojok dan paling sepi di perpustakaan.
Perlahan air mataku mengalir, aku tersenyum kecil. Sekarang aku sadar aku bukan apa-apa baginya. Kenapa berharap sekali?
“You’re an idiot Eunri, you’re an idiot, why do you even love him this much? You’re just one of his toy, you’re an idiot.”

“Choi Eunri, kau dicari dengan ketua klub mengenai kertasmu.” seorang gadis berkacamata menepuk bahuku.
“Oh, ne, gomawoyo Ahyoung-ssi.” aku menunduk kepadanya sebelum berjalan menuju ruang ketua klub.
Aku berjalan dalam keheningan. Ada apa dengan kertasku? Tak mungkin kan aku menjadi tiga terbaik dalam meringkas Aku bahkan tak ingat sama sekali apa yang kutulis di kertas itu. Kurasa hampir tak ada hal penting sedikit pun disana. Apa dia hanya beralasan mengenai kertasku agar ia bisa menemuiku? Aku mengabaikan segala pemikiran itu dan membuka pintu ruangan ketua klub. Kyuhyun ada di mejanya, terlihat sangat serius mengecek kertas-kertas kami.
“Apa apa, Kyuhyun-ssi?” aku berusaha bersikap seformal mungkin.
“Eunri-ssi, saya barusan mengecek kertas anda dan hampir tak berisi apa-apa. Apakah anda tidak serius menanggapi klub ini?” dia menatapku sangat tajam. Aku yakin wajahku memucat karena rasa takut.
“Jeosonghamnida, Kyuhyun-ssi.”
“Lain kali tolong lebih serius.”
“Ne. Saya permisi.” aku berdiri dan berjalan keluar. Diam-diam aku berharap dia menahanku. Ah, bodohnya aku. Aku berbalik menatapnya tepat sebelum keluar ruangan “Oh ya, Kyu.”
“Ne?” dia menatapku heran.
“Tampaknya kau benar, aku hanya pasangan one night stand mu.” Aku tersenyum kecil dan berlari keluar ruangan menuju taman sekolah.
Sejak pertama masuk sekolah taman sekolah adalah tempat favoritku. Aku sering bersantai disini kalau sedang tak ada kerjaan. Dan selama aku stress mengenai masalah Kyuhyun, aku menjadi semakin sering berada disini. Aku mengangkat kepalaku, menutup mataku, angin menerpa wajahku. Lagi-lagi aku menangis.
“Apa yang kuharapkan?” air mataku terus mengalir deras.
Sebuah tubuh menghalangi angin menerpa wajahku. Aku membuka mata, tepat di depanku berdiri Cho Kyuhyun.
“Hey, nona Choi sedang merindukanku, huh?” dia berbicara dengan nada jahil. Tubuhku refleks bergerak memeluk pria itu dengan sangat erat.
“Iya, iya, iya kau idiot. Aku sangat merindukanmu.” air mataku menetes semakin deras. Semua amarah dan benci seketika hilang begitu saja.
Dia membalas pelukanku, saling melepas rindu. Hening, hanya suara tangisanku yang terdengar. Perlahan isakanku berkurang, dia melepas pelukannya dan memegang wajahku. Mata kami bertemu, tatapan matanya hangat membuatku meleleh. Perlahan wajahnya mendekat, dia mencium bibirku, melumatnya. Perlahan wajahnya menjauh.
“Jangan pernah, jangan pernah sekali pun kau berpikir kau adalah pasangan one night stand ku. Jangan pernah. Kau itu istimewa, sangat istimewa.” kata-kata Kyuhyun meluluhkan hatiku. Aku mendekati wajahnya, mencium bibirnya lagi. Lidah saling membelit, ludah bertukar. Aku tak peduli kehilangan nafas, aku hanya menginginkan dia sekarang juga.

Sekarang aku dan Kyuhyun ada di ruangan ketua klub. Kami masih berciuman, ciuman yang sangat panas. Tanganku bergerak menyentuh kejantanannya. Kyuhyun menggeram pelan merasakan tanganku. Ia membalik tubuhku dan memposisikan sikuku bersanda di meja ketua klub.
“Bersiaplah, aku akan bermain kasar hari ini.”
Tanpa aba-aba, dia mendorong kejantanannya masuk ke dalam tubuhku dan bergerak keluar masuk dengan sangat cepat. Aku berteriak dan mendesah pada saat bersamaan, dia bukan yang paling lembut dalam bercinta tapi dia tak pernah sekasar ini.
“Aahh… Kyu… kau terlalu kaaasaar…”
“Aku merindukanmu.” Kyuhyun mengabaikan keluhanku dan bergerak semakin cepat. Ia menunduk dan mengecup leherku menimbulkan banyak kissmark.
“Sudaaah kubilaaaahng… jangaaan… ah…”
“Aku peduli apa?” ucapnya sambil terus mengingit leherku.
Aku sudah sangat dekat. Aku dapat merasakan miliknya membesar dalam diriku, dia juga sudah sangat dekat. Dia bergerak semakin cepat dan menghentakkan dirinya ke dalam tubuhku mengeluarkan semua benihnya ke rahimku. Aku mendesah pelan karena efek orgasme yang masih terasa. Kyuhyun menarikku berhadapan dengannya lalu mencium bibirku dengan lembut.
“Choi Eunri, saranghae.”
“Nado saranghae.”
Pintu terbuka membuat aku dan Kyuhyun membalikkan wajah. Mirae eonnie berdiri disana menatap kami berdua tak percaya. Ia berbalik dan menangis meninggalkan pintu. Aku hanya tersenyum penuh kemenangan, sekarang dia tau untuk menjauhi Kyuhyun.
“Jadi… ronde dua?” dia menatapku sambil memainkan rambutku. Aku tersenyum.

…..

THE END~

Post Terkait